October 21, 2010

Kau adalah Keajaiban dalam Hidupku

Seumur hidup, aku nggak pernah menyangka bisa memiliki seseorang sepertimu. Memang, dulu—sebelum aku mengenalmu—aku sering membayangkan punya pacar ganteng. Tapi toh meski khayalan itu tampak begitu nyata bagiku, terkadang aku pun pesimis. Apa iya, Dea yang bentuknya seperti ini bisa punya pacar ganteng?? Bahkan, teman-temanku juga sering menasihati supaya aku nggak terlalu “mimpi” punya pacar ganteng.

Mungkin itu juga sebabnya kenapa aku terus jadi jomblowati sejati selama 22 tahun, karena terlalu tinggi bermimpi, sampai nggak nengok cowok yang nggak ganteng, hahaha…

Tapi itu cerita dulu.

Masih ingat bagaimana kita pertama kali bertemu? Aku masih ingat betul, hari itu, seperti biasa aku pergi ke Warnet di dekat rumahku (waktu itu aku belum punya sambungan Internet di rumah). Seperti biasa juga, aku membuka pesan-pesan yang masuk di Inbox account Badoo-ku. Dan disitulah aku membaca pesan yang kamu kirim buatku. Pesannya sederhana (aku yakin kamu juga mengirimkan pesan yang sama ke beberapa cewek lainnya), kamu ingin menawarkan persahabatan. Aku pikir waktu itu, “Mmm… Cowok 22 tahun, Spanyol…” Aku pun membalas pesanmu. Dan persahabatan kita dimulai saat itu…

Lucu sebenarnya kalau aku membayangkan waktu dulu, bagaimana kita berkomunikasi (Spanglish, karena aku kan belum terlalu pandai berbahasa Spanyol, dan bahasa Inggris-mu pun kacau setengah mati). Aku masih ingat bagaimana aku selalu mengecek pesan yang kamu kirimkan ke email-ku lewat ponselku, dan kalau pesanmu ada di sana, aku akan pergi ke Warnet dan menyimpan pesanmu ke Flash Disk USB-ku, karena kamu pasti menulis dalam bahasa Spanyol, dan aku harus menerjemahkannnya dulu ke bahasa Inggris di rumah. Setelah itu, aku akan menulis balasannya dalam bahasa Inggris sebelum menejermahkannya lagi ke bahasa Spanyol, dan—lagi-lagi—pergi ke Warnet untuk mengirimkan balasannya untukmu. Wow, perjuangan yang nggak mudah, ya??

Tapi toh itu nggak bertahan lama, karena lama-lama aku capek menerjemahkan email-email-mu, jadi akhirnya aku selalu membalasnya dalam bahasa Inggris, hahaha… Kejam, sih. Tapi kan karena itu sekarang kamu bisa berbahasa Inggris dengan baik (meskipun untuk Speaking masih di bawah rata-rata, hahaha…). Aku, secara nggak langsung, sudah menjadi guru buatmu, hehehe…

Aku juga masih ingat waktu kamu bilang kamu suka aku dan ingin aku jadi pacarmu. Saat itu aku berpikir, kita kan belum pernah ketemu? Bagaimana mungkin kamu bisa suka aku?? Dan mungkin juga, karena tanpa sadar aku juga punya perasaan yang sama untukmu, kita pun mulai pacaran. Kelihatannya memang aneh karena kita pacaran tanpa pernah bertemu secara langsung sebelumnya.

Tapi akhirnya, setelah 6 bulan pacaran di Internet, kamu datang ke Indonesia. Aku masih ingat, saat itu aku mempersiapkan banyak hal untuk kedatanganmu (termasuk diet, yang meskipun gagal tapi tetap menunjukkan hasil yang lumayan nggak berarti). Masih ingat waktu aku bilang kalau aku sebenarnya “gendut”? Waktu itu aku takut setengah mati kalau kamu nggak akan suka dengan “kenyataan” yang sebenarnya. Tapi ternyata ketakutan itu nggak terbukti sama sekali, karena kamu bisa menerima aku apa adanya.

Aku juga masih ingat, waktu itu aku menjemputmu di bandara di Jakarta. Aku pakai baju abu-abu, ditambah syal warna hitam-putih, jeans dan sandal ungu. Dan kamu pakai baju merah, jeans dan sepatu abu-abu, menyeret travel bag besar berwarna hijau. Saat aku melihatmu keluar dari pintu Imigrasi, demi Tuhan, rasanya jantungku melorot turun ke kaki, dan kakiku jadi lemas tiba-tiba. Dalam hati aku berkata, “Ya Tuhan, ternyata dia lebih ganteng daripada di foto!!” Hahaha…

Aku juga ingat, hari di mana kamu melamarku. Saat itu hari ulang tahunku yang ke-24. Kita baru saja kembali dari makan malam bersama teman-temanku. Saat itu kamu masuk ke kamarku, dan bertanya, “Do you want…” Tapi pertanyaanmu itu menggantung. Kamu tahu, nggak? Sebenarnya saat itu aku sudah tahu kalau kamu ingin melamarku. Tapi aku pura-pura nggak tahu menahu soal itu. Dan tiba-tiba, kamu bertanya lagi, “Maukah kau kawin denganku?” Sumpah, aku tertawa setengah mati, karena pertanyaanmu itu terdengar lucu di telingaku. Tapi aku menghargai kejutan yang kamu siapkan, dan aku juga dengan senang hati menerima tawaran untuk menjadi istrimu.

Aku sangat menikmati saat-saat kebersamaan kita. Yah, aku tahu kita jarang bersama secara langsung. Mungkin kalau ditotal, jumlahnya kira-kira hanya 4 bulan. Padahal, kita sudah bersama selama lebih dari 2,5 tahun! Wow!

Aku tahu, terkadang hubungan kita diwarnai banyak hal. Ada senang, sedih, kangen, marah, kecewa, tawa, khawatir… Aku sangat menikmati semua itu, karena itulah yang menjadikan kita makin dewasa. Dan sekarang, aku sudah menjadi istrimu, dan kamu adalah suamiku. Terkadang aku masih nggak percaya kalau kita sudah menikah. Sepertinya, itu adalah impianku waktu dulu. Tapi akhirnya, impian itu terwujud. Bukan karena akhirnya aku punya suami yang ganteng, tapi lebih dari itu. Karena pada akhirnya, aku punya seseorang yang benar-benar bisa melihat siapa diriku, yang mencintaiku apa adanya, yang bisa melihat kecantikan dalam diriku bahkan ketika aku sendiri nggak bisa melihat itu, yang memahami dan selalu menjadi pendengar yang baik buatku, yang selalu bisa membuatku merasa nyaman dan bahagia, dan yang dengannya aku bisa berbagi segalanya.

Mungkin aku nggak punya apa-apa untuk kuberikan buatmu. Aku cuma punya cinta yang begitu besar untukmu. Kamu membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya nggak pernah kulakukan. Sekarang aku jadi selalu ingin memasak untukmu, menyiapkan hal-hal yang kamu butuhkan setiap hari. Semua itu kulakukan bukan untuk memberi kesan bahwa aku adalah seorang istri yang baik. Tapi aku melakukan semua itu semata-mata karena aku ingin, karena aku peduli padamu.

Aku juga tahu, mungkin masih ada banyak hal yang harus aku perbaiki maupun aku pelajari. Mungkin ada kalanya aku membuatmu kesal dan marah, atau membuatmu sedih. Untuk itu aku minta maaf. Aku akan selalu berusaha memperbaiki kesalahanku, dan belajar lagi untuk bisa menjadi seseorang yang sungguh-sungguh berguna untukmu, agar aku bisa menjadi yang terbaik bagimu, dan menjadi seseorang yang dengannya kamu bisa berbagi segalanya.

Dan di sini juga, aku ingin berterima kasih padamu.

Terima kasih karena telah memilihku, karena mencintaiku seperti apa adanya diriku.
Terima kasih karena telah menjadi segalanya bagiku. Kau bisa menjadi seorang teman, kakak dan suami terbaik bagiku.
Terima kasih karena kau selalu membuatku merasa istimewa.
Terima kasih karena telah memahami dan menghargai setiap hal yang aku lakukan.
Terima kasih karena kau selalu jujur dan setia padaku.
Terima kasih untuk perhatian yang kamu berikan untukku.
Terima kasih karena telah memasak untukku.
Terima kasih untuk selalu mendengarkan aku.
Terima kasih untuk leluconmu yang selalu membuatku tertawa ketika aku sedih.
Terima kasih untuk setiap pelukan dan ciuman yang kau berikan padaku.
Terima kasih untu setiap tawa dan kebahagiaan yang kau bagi bersamaku.

Terima kasih untuk segalanya.



Kau adalah keajaiban dalam hidupku.

Aku cinta kamu.






*dipersembahkan untuk belahan jiwaku

Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

2 comments:

H3NNY R3ALE said...

Deaaaaa yaolo.. lucu ih bacanya..
perjuangan bgd ya.. apalagi spanglish..
mirip2 deh ama aku italish.. tp ak ga sesusah km kyanya..
pasti skrg yg cm ngerti bhsa suami ya kita doang ya..
penterjemah pribadi.. ihihih.. salut
Once again dream come true.. ak jg dlu gtu dkira kbykn mimpi.. ihihih.. kisses

Dea Angan said...

Hihihi... Makasih, Mbak Henny...
Iya, kalo di sini kan nggak banyak yang bisa bahasa Eropa, dan mereka juga gak bisa bahasa Inggris. Walhasil, kita yang kudu belajar lebih giat, hehe...
Pokok'nya chaaaiiiooo... Mimpi terusss!! ^^

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com