October 12, 2010

Suddenly (Must be) Skinny: Part 1

            Dilihat berapa kali pun, wujudku tetap menyedihkan.
I’m serious. Kenapa aku tidak bisa sedikit lebih cantik? Aku tahu seharusnya aku mensyukuri apa yang sudah kumiliki. Tapi, mensyukuri gumpalan-gumpalan lemak dalam tubuhku??
            Oh, please, give me a break! Siapa sih yang akan senang memiliki berkilo-kilogram lemak yang bersarang dalam tubuhnya? Kalau kau sekurus Christina Aguilera mungkin saja. Tapi aku yakin kalau dia sudah cukup bangga dengan ukuran tubuhnya yang ekstra kurus.


            Seandainya saja di dunia ini ada transfer lemak yang bisa dilakukan tanpa harus menyayat kulit tubuh, dengan senang hati aku akan mendonorkan lemak di tubuhku ini pada orang-orang di Ethiopia. Pasti mereka akan senang sekali menerimanya karena nantinya mereka tidak hanya akan mempunyai kulit untuk membalut tulang, tapi juga lemak.
            Apa kau yakin mereka akan senang menerima donor lemak? Atau mereka lebih senang menerima daging?
            Masa bodoh, lah. Lagi pula, bagiku being slim is not everything. Aku cukup senang dengan ukuran tubuhku sekarang. Bukankah cowok-cowok lebih senang melihat cewek dengan banyak lekukan di tubuhnya? Aku bahkan punya BANYAK SEKALI lekukan di tubuhku.
            Aku tidak bohong. Kalau tidak percaya, raba saja perutku. Aku tidak hanya punya satu perut. Tapi dua. DUA PERUT. Dan semuanya karena lemak.
            Jadi, kenapa aku tidak seharusnya bangga pada tubuhku?
            Yeah, right. Seolah aku punya body oke saja.
            Siapa sih cewek di dunia ini yang senang bertubuh gemuk? Aku saja tidak. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku benci sekali pada tubuhku. Aku tidak suka menjadi gemuk. Aku tidak suka menjadi cewek yang tingginya hanya 160 sentimeter dan beratnya 72 kilogram. Mungkin aku tidak segemuk yang kau kira. Tapi tetap saja aku memiliki 20 kilogram lebih lemak yang harus dibuang dari tubuhku.
            Mau bagaimana lagi? Papa dan mamaku semuanya gemuk, dan papaku bahkan tidak hanya gemuk. Dia overweight! Lihat saja bagaimana perutnya menyaingi besar perut ibu-ibu yang hamil tujuh bulan.
            Jadi, bukan sepenuhnya salahku, kan, kalau aku bertubuh gemuk?
            Yah, baiklah, aku memang suka sekali makan. Aku tidak terlalu suka ngemil yang, kata orang, adalah penyebab utama kegemukan. Aku benar-benar suka sekali makan. Serius. Aku bisa makan tiga atau empat kali sehari. Apalagi kalau aku sedang stres. Nafsu makanku akan meningkat menjadi dua kali lipat!
            Aku ingin sekali menjadi langsing. Selama 18 tahun hidupku, aku belum pernah sekali pun menjadi langsing, bahkan ketika aku masih bayi sekalipun! Mungkin aku memang sudah menjadi gemuk semenjak mamaku mengeluarkanku dari rahimnya.
            Tapi bukan itu saja alasanku kenapa ingin langsing. Alasan lainnya adalah karena aku ingin punya pacar. Seumur hidup aku belum pernah merasakan bagaimana asiknya pacaran, walaupun kali ini kau tidak bisa menghitungnya sejak aku masih bayi, karena tidak ada bayi yang pacaran, kan? Kecuali kalau orangtuamu menjodohkanmu dengan seseorang. Tapi tetap saja kau tidak bisa menikmati masa pacaranmu, karena kau kan masih bayi.
            Yah, begitulah. Menurut pengamatanku, cewek-cewek yang punya pacar adalah mereka yang langsing, yang bertubuh oke, tapi kebanyakan dari mereka tidak berotak. Aku berani bertaruh kalau mereka terlalu sibuk mengurusi penampilan mereka daripada memikirkan nilai-nilai mereka yang setiap semester semakin bertambah parah.
            Jadi, karena aku tidak mau menyenangkan cowok-cowok itu dengan mengubah tubuhku menjadi langsing, aku tidak melakukan diet. Aku tidak mau menyiksa diriku sendiri demi mendapat seorang pacar. Bagiku, cowok-cowok yang melihat cewek hanya dari segi fisiknya saja, tidak pantas untuk dicintai.
            Tapi akan lain ceritanya kalau dia bisa menerima diriku apa adanya, dan tentu saja, plus menerima gumpalan-gumpalan lemak di tubuhku. Aku akan melakukan apa saja untuk menjadi langsing. Aku kan tidak mau membuatnya malu dengan memiliki pacar seekor kuda nil. Memangnya dia pawang hewan?
            Yah, kita tunggu saja kapan cowok itu akan datang.
            Nah, sekarang kau sudah tahu bagaimana tidak nyamannya aku terhadap ukuran tubuhku. Tapi aku bisa pastikan kalau tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini. Aku hanya membagi ketidaknyamananku ini pada diriku sendiri. Aku tak pernah menunjukkannya di luar.
            Aku menutupi kelemahanku ini dengan banyak cara, terutama pada perubahan sikap. Aku ini cewek tomboi, dan aku nyaman menjadi tomboi. Dengan menjadi tomboi, aku bisa menjadi tampak seperti cewek-cewek yang tidak terlalu peduli pada penampilan mereka. Kebanyakan cewek tomboi seperti itu, kan?
            Tapi, kurasa aku memang benar-benar tomboi. Maksudku, aku tidak suka hal-hal yang berbau feminin. Aku lebih suka hal-hal yang ‘cowok banget’. Mau tahu apa kesukaanku? Aku yakin kau bisa menebaknya.
            Yup, kau benar (kurasa). Aku suka sekali sepak bola. Aku memang tidak pandai bermain sepak bola—aku bahkan tidak bisa sama sekali. Tapi mungkin itu disebabkan karena aku takut orang salah mengenaliku sebagai bolanya, dan bukan sebagai salah satu pemainnya—tapi aku suka menonton pertandingannya. Klub favoritku adalah Arsenal dan AC Milan.
            Apa aku sudah bilang kalau aku juga suka Motogp? Pasti kau langsung tahu kalau Valentino Rossi adalah pembalap favoritku. Bagaimana tidak? Dia hebat sekali! Dia sudah enam kali menjadi juara dunia, dan aku sangat yakin dia masih mampu menambahnya menjadi DELAPAN, yang berarti dia akan menyamai rekor Phil Read dan John Surtees! Cool...
            Yah, memang masih jauh jika dia harus menyamai rekor Giacomo Agostini yang sudah membukukan lima belas gelar juara dunia (apa aku bilang LIMA BELAS??). Tapi aku percaya Vale pasti bisa melebihi rekor itu. Dia kan hebat!
            So, aku bisa pastikan kalau kau masuk ke kamarku, kau tidak akan menemukan poster cewek-cewek cantik nan seksi—kurasa aku terlalu iri pada bentuk tubuh mereka. Yang akan kau lihat hanyalah poster cowok-cowok keren dengan seragam sepak bola maupun dengan baju balapnya.
            Aku suka cowok keren. Dan siapa yang tidak? Mereka enak sekali dilihat. Dan jujur saja, dengan memasang poster-poster mereka di kamar, aku bisa sedikit membendung hasratku untuk punya pacar karena aku serasa berpacaran dengan mereka semua.
            Yah, tidak semua. Hanya sebagian saja.
            By the way, apa kau mau tahu siapa cowok-cowok yang menurutku keren? Mungkin kau tidak sependapat denganku. Tapi, masa bodoh, lah! Ini dia:
In order:
1.      Valentino Rossi, pembalap Motogp (pasti!!)
2.      Kaka’, AC Milan midfielder
3.      Yoann Gourcuff, AC Milan midfielder
4.      Francesc Fabregas, Arsenal midfielder
5.      Iker Casillas, Real Madrid goalkeeper
6.      Hector Barbera, pembalap 250cc
7.      Fernando Alonso, pembalap F-1
8.      Hayden Christensen (aku yakin kau tahu siapa dia)
9.      Semua personel Simple Plan (aku juga suka Linkin’ Park)
10.    Glenn McMillan, Ranger Kuning di Power Rangers Ninja Storm
Begitulah. Aku punya semua poster mereka di kamarku. Bahkan, aku punya poster Valentino Rossi sebesar pintu! Dan ada juga poster lainnya, seperti poster pemain-pemain Arsenal, AC Milan, Real Madrid, poster-poster pembalap (Kimi Raikkonen, Juan Pablo Montoya, Randy de Puniet, Marco Melandri), dan banyak lainnya. Tidak akan habis kalau kusebutkan semuanya.
Hey?! Kenapa kita membicarakan poster? Menurutku itu sama sekali tidak penting dan tidak bermanfaat—mungkin untuk pengetahuan saja.
Biarlah. Lagi pula sudah terlanjur.
Kembali ke pokok pembicaraan. Kau tak mungkin menjadi tomboi tanpa menjadi galak—setidaknya menurutku begitu. Jadi, beginilah aku. Tomboi, tidak peka, dan galak. Plus jutek.
Kau pernah nonton Hey Arnold!? Kalau pernah, pasti kau tahu sosok Helga G. Pataki, cewek yang omongannya kasar dan hobi menjahili orang. Teman-temanku bilang kalau aku adalah wujud Helga di dunia nyata.
Siapa yang peduli??
Dengan bersikap seperti itu, aku bisa menampilkan kepercayaan diri yang palsu, menutupi kelemahanku, dan...
... ketidaknyamananku pada ukuran tubuhku.
Tapi, kurasa itu juga disebabkan karena aku senang orang-orang menjadi takut padaku.
Yah, sekali lagi, who cares?!
“Vika!! Ayo cepat mandi! Dani akan menjemputmu sebentar lagi!” teriak mamaku dari lantai bawah.
Ups. Aku harus cepat-cepat mandi. Kita lanjutkan ceritanya nanti, oke?

*** written in 2005 ^_______^ ***
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com