October 12, 2010

Vampir Ompong






Aku berlari cepat menuruni tangga. Suara berdebum muncul seiring dengan bunyi langkah kakiku yang besar-besar. Bukan berarti kakiku besar, lho. Tapi aku memang sedang terburu-buru. Hari ini hari pertamaku masuk di sekolahku yang baru karena Ayah harus dipindah tugaskan ke daerah ini. Sebuah daerah kecil di ujung selatan Yogyakarta yang bernama Gunung Kidul.
Ini bukan pertama kalinya aku pindah sekolah. Mungkin ini sudah yang keseribu kalinya sejak aku mulai mengingat apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupanku. Kau tahu, kan? Hal-hal semacam… siapa aku ini, berapa umurku, berapa tinggi dan berat badanku. Yah, hal-hal semacam itulah kira-kira.
Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Sekarang masalahnya adalah… Aku cewek 16 tahun yang sedang tergesa-gesa karena takut terlambat masuk di hari pertamaku, tapi di saat yang bersamaan juga mendengar cacing-cacing di perutku mengadakan konser akbar karena praktis aku belum makan apapun selama 10 jam terakhir. Ditambah lagi, mataku ngantuk nggak karuan karena semalam begadang menonton film yang kata temanku bagusnya setengah mati; Twilight dan New Moon.
Masa bodoh, lah. Aku nggak berpikir kalau film itu begus, meskipun juga nggak jelek-jelek amat. Tapi aku jadi mulai berpikir seandainya di dunia ini memang ada makhluk yang disebut vampir  atau manusia setengah serigala. Kalau di sini sih, mungkin nggak ada jenis makhluk seperti itu. Yang ada cuma babi ngepet atau manusia jadi-jadian.
Secepat kilat aku memakai sepatuku, menyambar setangkup roti tawar yang sudah disiapkan Ibu di meja—bahkan lupa untuk mengolesinya dengan selai coklat kesukaanku—dan  menubruk tong sampah ketika aku berlari menuju pagar.
“Abel!!!!” teriak Ibu kaget mendengar suara tong sampah berkelontangan di halaman.
“Sori, Buuuu!!” balasku cepat. “Keburu telat!!” Dan aku pun secepatnya berlari ke sekolah yang—untungnya—jaraknya nggak bergitu jauh dari rumah.

***

Sekolahku ini sebenarnya cukup besar. Hanya saja bangunannya sudah lumayan tua. Maklum, katanya memang jarang direnovasi. Tapi kalau semakin diperhatikan, sekolah ini agak sedikit spooky. Apa mungkin karena ada pohon beringin besar yang tumbuh di pinggir halaman sekolah, ya?
Ketika aku mencari kelasku, ada banyak mata memandang ke arahku. Aku mencoba tersenyum iklas, berharap mereka akan menyapaku dan memberitahuku di mana letak kelasku itu. Tapi sepertinya nggak ada yang mau repot-repot jadi pemanduku tuh. Jadi aku terpaksa mendongak ke atas, melihat papan nama di setiap kelas yang ada, dan berharap segera menemukan kelas II-IPS2.
Setelah berjuang susah payah dan berkeringat (agak melebih-lebihkan sedikit sebagai efek dramatis), akhirnya aku berhasil menemukan kelasku. Ruangannya nggak besar-besar amat. Ada sekitar 17 meja yang disusun rapi, lengkap dengan 2 pasang kursi di setiap mejanya. Di bagian depan kelas, ada sebuah papan tulis tradisional besar (karena masih pakai kapur tulis), dan di bagian kanan papan tulis ada tiang bendera kecil—dan juga benderanya—yang catnya mulai mengelupas.
Ada beberapa siswa di ruangan itu. Semuanya menatapku ketika aku mulai memasuki ruangan. Meskipun aku nggak melihat adanya tanda-tanda sorot mata jahat, tapi aku tetap grogi juga. Dan ketika aku mulai mencari-cari sebuah kursi yang bisa kutempati (yang tidak ada tas di atasnya), seseorang mendekatiku.
“Hai! Kamu murid baru, ya?” tanyanya ramah. Aku mengangguk.
“Aku Suci,” katanya lagi, menyodorkan tangan kanannya padaku. Kuraih tangan itu sambil berkata, “Abel.”
Kuperhatikan Suci dengan saksama. Rambutnya ikal sebahu. Matanya besar, dengan alis yang nggak dicabut rapi. Alisnya jadi mirip sekali alis Sinchan. Dan hidungnya, menurutku dia punya bentuk hidung yang aneh. Nggak mancung, sih. Tapi hidungnya sedikit bengkok seolah-olah dia habis dipukuli Chris John.
“Kamu mau duduk di mana, Bel?” tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak, lalu kubilang padanya, “Aku nggak mau terlalu ke depan, tapi juga nggak mau terlalu ke belakang,” sambil memamerkan seringai memelasku.
“Oh,” katanya lagi. “Kalau gitu kamu duduk di sana saja.” Ia menunjuk sebuah kursi di barisan kedua di dekat jendela. Wah, tempat duduk yang menarik. Kalau aku bosan dengan pelajaran, aku bisa melongok ke luar jendela dan mencari sesuatu yang bisa dipandang.
“Oke,” kataku. “Trims.”
“Sama-sama,” kata Suci ramah.
Aku berjalan ke arah tempat dudukku. Kuletakkan tas ransel merahku di atas meja dan duduk sambil memandang sekitar. Beberapa cewek mulai mengikuti Suci mendekatiku. Kurasa mereka hanya ingin berkenalan. Beberapa akhirnya duduk mengelilingiku dan mulai memperkenalkan diri.
“Halo, Abel. Aku Tina,” kata cewek berambut keriting dengan suara cempreng.
“Hai. Aku Abel,” jawabku.
Lalu ada lagi cewek yang baju seragamnya kekecilan. Mungkin dia sengaja mengecilkan bajunya supaya terlihat seksi. Hei, siapa tahu, kan?
Cewek itu duduk di depanku. Matanya menatapku dan ia berkata, “Aku Heni.” Aku tersenyum dan berkata, “Abel.”
Lalu ada beberapa cewek lagi seperti Candra, Ika dan Yahya. Kami saling memperkenalkan diri dan nggak berapa lama kemudian kami mulai membicarakan gosip di sekolah dan hal-hal yang biasa terjadi di lingkungan ini.
Ketika tanpa sengaja aku melongok ke luar jendela, aku melihat sekelompok siswa yang terlihat berbeda dari lainnya. Kulit mereka pucat, tidak sepeti kulit kami yang gosong kecoklatan karena matahari. Cara jalan mereka juga aneh. Mereka terlihat sangat kaku dan tampak kekurangan oksigen.
Karena penasaran, aku pun menanyakannya pada teman-teman baruku.
“Mereka siapa?” tanyaku penasaran.
Ika berdeham pelan, kemudian berkata, “Si Pucat.”
“Si Pucat?” tanyaku heran. Ika dan yang lainnya mengangguk.
“Karena kulit mereka, kamu tahu kan?” jelas Suci. “Mereka baru pindah ke sekolah ini tahun lalu. Katanya mereka dari kota. Tapi nggak ada yang tahu pasti karena nggak ada yang secara langsung pernah ngobrol dengan mereka. Mereka selalu berkelompok dan menyendiri. Mereka nggak pernah berbaur dengan yang lainnya. Seolah-olah mereka memang sengaja menghindari kami, tapi juga terpaksa ada di sini.”
“Kamu lihat cewek yang sok bossy itu?” tanya Suci sambil menunjuk ke arah cewek berpostur tinggi ramping yang tampangnya jutek. Aku mengangguk. “Dia Sisca,” katanya lagi.
“Dan cowok pendek yang pemalu itu Dani,” tambah Tina.
Yahya menimpali, “Kalau yang botak itu Benny.” Matanya menatap ke arah cowok tinggi besar berkepala botak yang nggak kelihatan ramah.
Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang cowok yang berjalan di belakang mereka. Kulitnya juga pucat, tapi dia sedikit berbeda dari yang lainnya. Rambut hitamnya disisir rapi, dan pakaiannya pun rapi. Nggak seperti kebanyakan cowok yang awut-awutan. Selain itu, dia juga lebih ganteng dari lainnya.
“Kalau dia siapa?” tanyaku tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganku pada cowok itu.
“Andre,” jawab Heni. “Dia populer di sekolah ini. Yah, siapapun juga tahu kalau dia ganteng. Tapi kalau dia normal, harusnya kan dia punya pacar.”
“Siapa tahu dia memang punya,” protes Suci. “Mungkin pacarnya di luar kota.”
Dan perdebatan mereka pun terpaksa berhenti karena bel masuk berbunyi.

***

Saat istirahat, Suci dan yang lainnya mengajakku ke kantin sekolah. Kami duduk di sebuah meja panjang di tengah kantin. Sambil mengobrol, aku melihat ke sekeliling. Dan tentu saja, mudah bagiku menemukan kelompok Si Putih karena mereka praktis duduk bergerombol di sebuah meja di pinggir kantin.
Kuperhatikan mereka sekali lagi. Tampaknya ada beberapa anggota baru. Sekarang bukan hanya Sisca, Dani, Benny dan Andre saja, tapi ada satu lagi cewek berhidung mancung yang duduk di antara mereka. Kuperhatikan apa yang mereka pesan. Tak ada makanan ataupun minuman. Ah, mungkin mereka cuma ingin ngobrol saja.
Tapi kan nggak perlu ke kantin kalau cuma ingin ngobrol?
Tiba-tiba jantungku berdebar kencang. Sekali lagi aku memperhatikan mereka dengan saksama. Kulit mereka pucat, tapi mereka nggak seperti orang-orang albino. Mereka lebih mirip seperti orang yang kurang darah. Lalu mata mereka, tampak ada lingkaran hitam di bawah mata mereka. Dan mata mereka pun nggak berwarna gelap sama seperti kebanyakan orang. Malah kalau boleh dibilang, mata mereka agak sedikit… keemasan?
Pikiranku tiba-tiba tertuju kembali pada film yang kuputar semalam. Semua ciri-ciri itu! Semua itu mengarah ke satu pentunjuk yang sama persis dengan apa yang ada di film itu.
Degup jantungku semakin cepat, dan perutku mulai mual. Lalu tanpa sadar aku bergumam…
Vampir.
Tepat ketika aku mengakhiri kata itu, cowok bernama Andre tiba-tiba melihat ke arahku. Matanya terbelalak kaget. Kemudian aku melihatnya berbisik pada teman-temannya, dan pandangan mereka pun langsung tertuju ke arahku. Mereka tampak kaget. Dan bahkan Benny terlihat marah.
Apakah Andre bisa membaca pikiranku? Apakah ia tahu kalau aku benar? Dan sekarang mereka marah? Apakah mereka ingin membunuhku???
Secara refleks aku berdiri dari kursiku. Kalau benar mereka adalah vampir, mungkin mereka bukan vampir ramah seperti di film itu. Mungkin mereka nggak suka bila ada yang tahu keberadaan mereka. Mungkin mereka akan membunuh orang-orang yang tahu siapa mereka.
Dan orang itu sayangnya adalah… aku.
Secepat kilat aku berlari dari kantin. Tak kuhiraukan teriakan bingung teman-temanku. Aku harus menjauh dari tempat ini.

***

Aku terus berlari sekuatku, berharap aku sudah berada cukup jauh dari sekolah. Sesampainya di rumah, aku akan bilang pada Ayah untuk memindahkan aku ke sekolah lain di kota saja. Aku nggak mau ada di tempat ini bersama para vampir yang ingin membunuhku.
Namun aku merasakan langkah-langkah mengikutiku. Aku panik dan mulai berlari lebih cepat. Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang yang sepertinya habis terbang di udara, mendarat tepat di hadapanku.
“Andre!” pekikku kaget. Jantungku berdegup kencang. Aku menengok ke belakang, mencari bantuan—atau mungkin memastikan apakah temannya mengikutinya.
Andre berjalan mendekatiku. Tampak sorotan marah di matanya. Aku semakin panik. Apa yang harus kulakukan sekarang??
“Kau tahu rahasia kami,” katanya. “Dan kami tidak suka itu.”
Langkahnya semakin dekat padaku. Aku berjalan mundur, terus mencoba menjauh.
“Aku nggak akan mengatakannya pada siapa pun,” kataku terbata-bata, berharap ia akan mempercayaiku dan melepaskanku pergi. “Aku akan pergi dari tempat ini dan aku nggak akan menceritakan ini pada siapa pun.”
Andre tertawa—tawa mengerikan yang pernah kudengar. “Kau pikir aku percaya? Sudah banyak yang mengatakan hal yang sama, tapi toh mereka tetap menceritakannya pada yang lain juga. Dan akhirnya, kami terpaksa menghabisi mereka semua karena kami tak mau rahasia kami terbongkar.”
Serasa ada yang memukul perutku dengan kayu besar. Aku berbalik dan berlari lagi. Tapi terlambat. Andre lebih cepat dariku. Dalam sekejap saja ia sudah kembali ada di depanku. Ia mendekat, dan tangannya mencengkeram tanganku kuat-kuat. Dingin dan sakit rasanya.
“Tolong,” ibaku. “Aku janji aku nggak akan mengatakannya pada siapapun.”
“Terlambat,” kata Andre kejam. Sesungging senyum kemenangan terhias dari mulutnya yang haus darah. Ia mendekatkan wajahnya ke leherku, bersiap menyedot habis darahku dan menghabisiku. Aku memejamkan mata. Aku bisa merasakan bibirnya yang dingin menyentuh leherku, dan giginya mulai tertancap di sana.
Tapi, hei! Apa yang terjadi?? Kenapa aku tidak merasa sakit?
Aku membuka mata, dan tampak Andre kebingungan sambil meraba-raba mulutnya. “Di mana?? Di mana?? Bagaimana??” teriaknya putus asa.
Aku terkesiap. Tampak di sana bahwa tak ada lagi taring tajam di mulutnya. Bahkan, bisa kulihat ada rongga besar di sana. Kurasa taring-taringnya tanggal. Dia jadi vampir ompong sekarang.
Aku tertawa sejadi-jadinya. Lucu melihatnya putus asa menangisi taringnya yang tiba-tiba tanggal.
“Berhenti tertawa!!!” teriaknya marah.
Tapi aku benar-benar tak bisa berhenti tertawa sekarang. Ini adalah hal terkonyol yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku tertawa keras sekali, tak sadar ada selokan kecil di sebelahku. Sampai akhirnya, aku terjatuh ke sana dan basah kuyup.
Sayup-sayup aku mendengar suara Ibu memanggilku.
“Abel. Abel! Bangun, Bel! Kamu mau sekolah, nggak?”
Aku membuka mata perlahan. Eh?? Aku ada di kamarku. TV-ku masih menyala dan wajahku basah. Rupanya Ibu sengaja menyiprati wajahku dengan air untuk membangunkan aku.
Aku masih setengah sadar ketika aku menjawab, “Iy-iyaa, Bu…”
“Cepat mandi,” perintah Ibu lagi. Kemudian Ibu keluar kamar dan meninggalkan aku terbengong-bengong karena bingung.
Sial! Ternyata cuma mimpi. Pasti ini gara-gara efek menonton film tentang vampir semalam. Dasar vampir ompong sialan!!

[dimuat di majalah Teen ^____^]
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com