November 27, 2010

Susahnya Jadi Anak Bungsu [Duh!]

Kamu anak terakhir? Sama seperti aku? Mungkin kamu udah sering nge’rasain enaknya jadi anak bungsu; yang lebih dimanja, lah; lebih diperhati’in, lah; lebih diturutin kemauannya, lah... Tapi pernah—atau, sering—nggak kamu nge’rasain nggak enaknya jadi anak bungsu?



Well, aku kasih tahu, ya, nggak enaknya jadi anak paling bontot:

Pertama, kamu nggak bakalan bisa se’enak perutmu ninggalin rumah (dalam hal ini, kerja di luar kota), terlebih kalau kakak-kakamu juga udah ‘nggak’ di rumah lagi karena mereka juga udah kerja di luar kota. Lha, gimana kamu bisa se’enaknya ninggalin rumah tanpa mikirin ORTU?? Meski orangtua kamu udah bilang, “Nggak apa-apa. Nggak usah mikirin Bapak sama Ibu. Kalo kamu memang mau ke luar kota, ya ke luar kota kota aja,” tetap aja—meski cuma dalam hati—kamu pasti “mikir”. Gimana nanti kalo Bapak-Ibu ditinggal di rumah sendirian? Gimana kalo ada apa-apa? Siapa yang bakalan ngurusin mereka? Siapa yang bakalan ngurusin rumah? Bla.. bla... bla...

Kedua, kalo kakak-kakakmu “berantem” karena mereka nggak akur, kamu dipastikan akan jadi pihak yang tertindas. Kamu akan berada di posisi yang nggak ngenakin banget. Serba salah, deh, pokoknya! Kamu dituntut untuk bersikap “adil” sama kakak-kakakmu. Tentunya, kamu juga harus sangat bijak dalam menghadapi “perang” di antara mereka. Nggak mesti harus jadi juru damai, sih. Buat aku, diam itu lebih baik. No comment aja, lah.

Sedikit tambahan:
Sisi positf dari “duel” antara kakak-kakakmu adalah... kamu bisa dapetin apa yang kamu mau dengan lebih mudah. Caranya?? Gampang aja. Kalo kakak A kamu curhat tentang kakak B kamu, ikut di “iya’in” aja, atau dibenerin kata-kata kakak A kamu meski sebenarnya dia nge’jelek-jelekin kakak B kamu. Begitu pula sebaliknya. Dengan bersikap “seolah-olah” kamu pro pada salah satu kakakmu, mereka akan menganggap kamu berada di pihaknya, sehingga ketika mereka bertanya, “Kamu butuh apa?”, kamu bisa dengan santai bilang, “Yah, jeans’ku udah kucel, nih. Mesti beli baru, deh.” He... he...

Well, ini sebenarnya nggak baik juga, sih. Tapi sekali-kali dilakuin boleh juga, kok. Lagian, siapa suruh berantem??

Ketiga, ketika kakak-kakkamu berantem gara-gara masalah duit, gara-gara yang satu merasa nggak adil karena selalu keluar duit sedangkan yang lainnya nggak keluar apa-apa, atau gara-gara yang satu merasa diperlakukan nggak adil sama ortu karena tiap kali ortu butuh duit, cuma dia yang ditodong sedang yang lain nggak, ditambah lagi kamu belum bisa kasih duit ke ortu karena kamu belum kerja... well, itu SANGAT nggak ngenakin banget!

Di satu sisi, kamu ingin ikut andil untuk membantu keuangan orangtua kamu. Tapi di sisi lain, kamu sama sekali nggak bisa bantu karena kamu memang nggak punya duit sama sekali. Dan kamu akan ngerasa saaangaaaat sebel dengan diri kamu sendiri karena nggak bisa berbuat apa-apa. Ditambah lagi, kamu akan ngerasa nggak enak benget sama kakak-kakakmu yang bisa kasih duit ke ortu. Belum lagi, perasaan bersalah karena kamu belum juga dapat kerjaan. Nggak enak banget, deh!

So, setelah dipikir-pikir lagi, enakan jadi anak nomor berapa, donk? Well, secara pribadi aku lebih milih jadi anak tengah aja. Bebannya nggak terlalu banyak dibanding anak pertama yang dituntut untuk jadi contoh yang baik buat adik-adiknya plus tempat bergantung ortu soal duit.

Tapi yah, jadi anak bontot enak juga, kok. Se’enggaknya aku bisa lebih sering dapetin barang-barang yang aku mau. Tinggal merengek dikit dan pasang tampang memelas, atau kalau perlu ngambek dan mogok makan, bisa dijamin barang yang aku mau akan jadi benda pertama yang aku lihat ketika membuka mata di pagi hari.

He... he... :D
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com