December 14, 2010

I am B – E – A – UTIFUL

Dilihat berapa kali pun, wujudku tetap menyedihkan.

5 tahun yang lalu, mungkin itu adalah kata-kata yang sering aku ucapkan setiap kali aku berkaca di cermin. Aku nggak pernah menganggap kalo diriku cantik. Yah, orangtua dan sahabatku sih sering bilang kalo aku ini manis—dan bukannya cantik. Tapi aku sering beranggapan kalo itu semua mereka katakan untuk menyenangkan hatiku saja. Coba pikir, mana ada orangtua yang akan berkata, “Anakku jelek banget!” Atau mana ada sahabat yang akan bilang, “Ya ampun! Kamu beneran butuh surat ijin untuk jadi sejelek itu!” Nggak mungkin, kan??

Jadi yah, aku selalu berpikir kalo aku ini jelek. Nggak jelek-jelek amat, sih. Tapi tetap saja aku beranggapan kalo aku ini bukan termasuk cewek cantik golongan A, yaitu cewek yang kulitnya putih mulus (mirip sapi), yang langsing, yang ke mana-mana selalu diuber-uber para pejantan berkaki dua, dan yang selalu diliatin orang tiap kali mereka jalan di muka umum, seolah-olah di depan mereka ada papan tak terlihat bertuliskan “LOOK AT ME!”

Selain itu, ada satu kejadian yang bikin aku tambah yakin kalo aku jelek. Waktu itu, aku suka sama seorang makhluk berjenis kelamin laki-laki yang manis (tapi tetap kalah ganteng dibanding suamiku sekarang. Tuhan memang adil. Yaaaaay!!), yang tinggal persis di sebelah rumahku, dan yang—sayangnya—sok jual mahal setengah mati. Biasa dong, aku suka titip salam ke dia, lewat sepupu ceweknya yang juga tinggal di situ. Tiap kali aku ketemu sama tuh sepupu, aku selalu bilang, “Salam ya buat sepupumu (nama dirahasiakan, untuk menjaga privasi yang bersangkutan).”

Nah, suatu ketika, aku ketemu sama tuh cewek. Terus, karena saking semangatnya ketemu dia (maklum, itu saat yang tepat buat tanya-tanya tentang si cowok), aku langsung aja tanya ke dia, “Gimana salamnya?? Udah disampai’in belom??” Dan si cewek bilang, “Udah.”

Walhasil dong, aku penasaran setengah mati sama reaksi si cowok waktu salamku itu—entah yang ke berapa kalinya—disampaikan ke dia. Dengan menggebu-gebu, aku tanya deh si cewek, “Oya?? Terus dia bilang apa??” Dan tanpa disangka-sangka, dia bilang dengan santainya, “Dia cuma bilang, ‘Oh, Dea yang jelek itu, ya?’”

Deg.

Jantungku serasa berhenti.

Bayangin!! Cowok yang aku suka bilang aku jelek? JELEK??? Serasa ada balok kayu besar yang menembus jantungku. Lebih parah rasanya dari patah hati. Malu banget rasanya waktu itu. Kata-kata itu bagaikan sebuah penolakan besar-besaran atas wajahku yang buruk rupa ini.

Sejak saat itu, aku nggak berani ketemu si cowok secara langsung. Kalo ada dia, aku lebih milih ngumpet daripada malu. Sejak saat itu juga, aku menjadi jauh lebih minder tiap kali aku suka sama cowok, karena aku selalu beranggapan kalo mereka pasti menolak aku karena tampangku yang buruk rupa ini, tubuhku yang gendut ini, kulitku yang coklat ini, dan juga hidungku yang pesek ini.

Tapi itu dulu.



Sekarang aku nggak lagi menganggap kalo aku buruk rupa. Adalah ketika Antonio bilang dia suka aku—padahal kami belum pernah ketemu sebelumnya—yang bikin aku merasa cantik. Aku berpikir saat itu, kalo dia suka aku pastinya ada sesuatu yang istimewa dari diriku. Pasti ada sesuatu yang dia “lihat” dari aku. Selain itu, Antonio juga sering bilang kalo aku sebenarnya cantik (meski belum pernah ketemu, dia lihat fotoku jadi dia tahu seperti apa wajahku). Menurutnya, aku cuma nggak percaya diri saja. Dan dia juga bilang, kalo aku mau sedikit “berbenah diri,” aku bisa kok jadi cantik.

Jadi, aku kembali mengaca dan memperhatikan diriku di cermin. Dan ternyata aku menemukan kalo hidungku tuh nggak pesek. Dia kelihatan pesek karena pipi tembemku menutupinya. Mataku juga ternyata bagus. Warnanya cerah. Dan bulu mataku juga lentik, nggak perlu pakai mascara segala. Rambutku juga tebal dan hitam. Ternyata banyak yang iri sama rambutku (soalnya rambutku selalu dikuncir dan diuwel-uwel, jadi bentuk aslinya nggak kelihatan). Dan meskipun kulitku coklat, tapi kulitku bukan coklat daki, dan kulitku bersih.

Aku benar-benar mempersiapkan diri sebelum Antonio datang mengunjungiku. Itu akan menjadi pertemuan pertama kami setelah 6 bulan pacaran (menyedihkan, ya??). Jadi aku mulai diet, rajin luluran, rajin creambath di salon, bahkan facial juga, meski sebelumnya belum pernah facial dan harus rela bersakit-sakit ria waktu komedoku dipencetin. Belum lagi aku harus merapikan alis Sinchan-ku ini (soalnya alisku lebat banget). Kalo ada yang bilang mencabut alis itu sakit, mereka salah besar. Karena, mencabut alis itu SAKIT BANGET! Pokoknya, benar-benar terbukti kalo beauty is pain, deh.

Tapi akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Pipiku jadi nggak terlalu tembem lagi. Dan meskipun aku nggak langsing-langsing amat, tapi se’enggaknya aku punya pinggang sekarang. Rambutku juga makin oke. Hidungku juga mulai terlihat mencuat. Dan yang paling penting, aku juga mulai menghargai kulit coklatku ini, karena aku sadar bahwa sebenarnya kulitku ini eksotis. Dan ternyata, di negara-negara barat, cewek-cewek iri dengan kulit seperti punyaku ini.

Tuhan nggak menciptakan barang jelek. Semua cewek itu cantik, begitu juga aku. Mungkin aku memang nggak secantik Miss Universe, tapi aku tahu aku punya kelebihan (selain kelebihan berat badan, tentunya). Aku lucu dan humoris. Aku bisa bikin orang sedih jadi ketawa ngakak. Aku tahu banyak hal karena suka membaca. Aku juga cukup bijaksana untuk orang seusiaku karena banyak teman yang datang meminta nasihatku.



Dan yang terpenting, apapun aku, bagaimana bentukku, aku percaya tetap ada mereka yang selalu menerimaku apa adanya, yang nggak melihat wajah dan tubuhku, tapi melihat jauh ke dalam hatiku. Aku percaya, tetap ada mereka yang “melihatku” meski aku “tidak terlihat.”
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com