December 14, 2010

Masa Kecil, Bagiku



Seingatku, dulu aku nggak punya banyak teman untuk diajak bermain. Bukan karena aku nggak punya teman, lho. Tapi karena aku memang nggak terlalu suka punya banyak teman dari dulu. Buat aku, punya sedikit teman tapi dekat jauh lebih menyenangkan daripada punya banyak teman tapi nggak terlalu dekat.

Begitu pula dengan masa kecilku. Aku selalu main dengan teman yang itu-itu aja. Yang paling sering aku ajak bermain yaitu Kikin. Rumahnya cuma berjarak kira-kira 5 meter dari rumahku. Yang membatasi rumah kami ya cuma 1 rumah orang lain saja. Kami sudah kenal sejak kecil, meskipun aku nggak tahu kapan persisnya aku mulai main dengannya. Mungkin juga karena usia kami yang nggak terlampau jauh (cuma beda 1 tahun saja, dan aku lebih tua) dan dia juga termasuk orang yang bisa dipengaruhi dan disuruh-suruh waktu dia kecil, hahaha…

Yang paling aku ingat dari masa kecilku bersama Kikin yaitu ketika kami berdua sama-sama terkunci di kamar di loteng rumahnya. Usiaku kira-kira 7 tahun waktu itu. Nggak tahu juga waktu itu kami lagi ngapain. Pokoknya yang aku ingat, kami mengunci kamar itu dan mulai main. Nah, waktu kami mau keluar kamar, ternyata pintunya nggak bisa dibuka! Mungkin kuncinya macet atau apa.

Walhasil deh kami teriak sejadi-jadinya. Tapi orang-orang di rumah Kikin nggak dengar teriakan kami. Jadi aku, dengan lagak bak super hero, mencoba keluar melalui teras lotengnya. Bahaya banget, sih! Aku ingat Kikin teriak-teriak melarangku pergi. “Mbak, jangan!! Nanti kamu mati, lho!!” teriaknya.

Karena aku juga ikutan panik, aku nggak jadi turun lewat teras rumahnya. Dan untungnya, nggak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Coba tebak siapa? Kakak laki-lakiku! Hahaha… Dia tanya, kenapa kami teriak-teriak. Kami bilang, kami terkunci di dalam, hahaha… Jadi, dia meminta kami menyelipkan kuncinya dari bawah pintu, dan voila! Pintu akhirnya berhasil dibuka dan kami berdua selamat. Leganya…

Yang bikin aku penasaran, waktu aku akhirnya pulang ke rumah dan Mama melihatku, beliau langsung berkata, “Ya ampun, kamu habis ngapain aja?? Kenapa kakimu berdarah begitu??”

Dan aku pun langsung melihat kakiku yang—ajaibnya—sudah dihiasi dengan banyak goresan. Nggak tahu itu goresan datangnya dari mana. Baru setelah aku tahu aku berdarah, sakitnya mulai terasa. Langsung deh Mama mengobati aku pakai obat merah (sekarang nggak ada lagi, ya?).

Meskipun kami lebih sering main berdua, nggak jarang kami juga main dengan teman-teman lain yang rumahnya juga nggak jauh dari rumah kami. Teman main kami ya itu-itu aja. Ada Reco (kakaknya Kikin), Yeyen, Dedek (adeknya Yeyen), dan kadang kami juga main bareng Anggit (adeknya Kikin) dan Iing (adeknya Yeyen). Paling sering sih kami main Power Rangers. Aku selalu jadi Ranger Pink, dan Kikin jadi Ranger Kuning. Yeyen jadi Ranger Merah, Reco jadi Ranger Hitam dan Dedek jadi Ranger Biru. Kalo Anggit mau ikut main, dia pasti kebagian jadi robotnya, hahaha…

Kadang-kadang kami juga main Superman-Superman-an. Pernah suatu kali kami main permainan itu, dan Reco yang jadi Superman-nya. Mungkin waktu itu dia terlalu kreatif atau apa, jadi dia pakai kaos yang ditumpuk kemeja. Di lehernya diikatkan sebuah serbet (ceritanya jadi sayap, gitu). Nah, waktu dia mau berubah jadi Superman, dia lari mengelilingi kandang ayam di rumahku, mencopot kemejanya sambil berlari, dan setelah selesai dia berkata, “Berubah!” Kami yang nunggu dia “ganti” baju sudah bosan, hahaha…

Oya, kadang kami juga main Jack-Jackan. Itu lho, permainan yang pakai 2 pohon atau 2 tiang atau apapun lah, yang berfungsi sebagai benteng penjagaan kami. Terus, kami harus berhasil menyentuh benteng kelompok lain baru kami bisa menang. Kalo kami dikejar, kami lari secepatnya kembali ke benteng kami, menyentuh benteng, dan balik mengejar mereka. Seru! Aku paling suka permainan ini.

Setiap sore, kadang kami juga bersepeda ke Museum di dekat rumah kami. Halamannya luas, jadi kami senang bersepeda di sana. Kadang-kadang kami juga main ‘Adu Bakat’ di sana, atau juga main perosotan. Sudah banyak celanaku yang sobek gara-gara main perosotan di sana. Mama juga sudah bosan ngejahitnya, hahaha…

Sekarang kami semua sudah dewasa, sudah nggak pernah main sama-sama lagi. Tapi, kalo aku sih tetap main sama Kikin. Bisa dibilang kami tuh BFF (Best Friend Forever). Kami hampir nggak punya rahasia. Kadang kami juga masih jalan bareng, atau nonton VCD bareng, atau sekedar beli jajan bareng. Kami juga gendut bareng-bareng, hahaha…

Kadang aku kangen masa kecilku. Waktu kecil, sepertinya aku nggak perlu mikirin banyak hal. Yang ada cuma senang-senang saja. Main terus. Dan yang pasti, aku pasti bakalan kangen Kikin, karena di Spanyol nanti nggak ada teman yang bisa diajak gila bareng lagi. Mungkin di sana aku akan punya teman-teman baru. Tapi meskipun begitu, aku yakin Kikin sudah menjadi lebih dari sekedar teman buat aku, sehingga akan cukup sulit untuk punya teman seperti dia.

- Kikin and I -
A best friend is someone who when you show up at her door with a dead body she says nothing, grabs a shovel and follows you.
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

2 comments:

>kikin said...

weeew... touching! love this! u're my bbf too, mba! ^^

jadi inget jaman2 kita nguber2 cowo2 geje itu.. mereka hanya tidak melihat kecantikan kita (karna mungkin ketutup timbunan lemak kita ya.. hahaha)


eniwei, i'll miss u too when u go to spain, cuma kamu yg mau diajak geje2an dalam suka dan duka.. hehe...
but dont worry, i'll catch u up there, soon.. amin.. ;)
just wish me luck! :*


love,
sahabatmu yg paling cute ;)

Dea Angan said...

Hahaha... He'eh, masa2 itu sungguh sangat menyedihkan, haha... Tapi seru juga ye, Bok.. Kita cukup kreatif untuk mencari informasi ke sana ke mari tentang si target, mpe dibela-belain mengawasi rumahnya, hahaha... GeJe banget!!

Yah, kita berdua kan terkenal GeJe. Mpe kapan pun juga bakalan GeJe. Dan lebai juga, haha..

Then, I'll wait for you here. Hope to see you in Spain... Chaaaaiiiiiyyyooooo!!! ^^

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com