December 12, 2010

Menulis—Bagiku—Seperti Bernafas

"You ask me why I write. Writing for me is like breathing for you."


Dulu, waktu aku masih duduk di bangku sekolah, ketika ditanya, “Bakatmu apa?” aku bakalan bingung menjawabnya. Dulu, aku sama sekali nggak tahu bakatku itu apa. Aku pernah berpikir kalo bakatku itu menggambar, karena aku memang suka menggambar.



Tapi setelah ditilik lagi, ternyata gambaranku juga nggak bagus-bagus amat. Mungkin aku bisa menggambar dengan baik, asal ada contohnya. Tapi bukan ngejiplak lho, atau bahasa kerennya “nge’blat.” Yang penting di depanku ada gambarnya, trus aku tinggal mencontoh gambar itu. Kalo yang macam begitu, gambarku bagus jadinya. Tapi kalo disuruh menggambar bebas, jangan ditanya hasilnya, deh.

Akhirnya, aku yakin kalo bakatku bukan menggambar. Nyayi?? Nggak banget, deh. Aku cukup puas dengan menjadi penyanyi kamar mandi. Tapi kalo disuruh nyanyi di muka umum, yang ada penontonnya pada kabur semua. Atau kalo nggak, kuping mereka jadi berdarah gara-gara dengerin suaraku ini.

Meski begitu, sejak dulu aku selalu menulisi diary-ku. Aku pertama kali punya diary waktu kelas VI SD. Waktu itu kan lagi ngetop-ngetopnya punya diary. Tapi diary itu bukan untuk menulis cerita sehari-hari kita, melainkan untuk nulis biodata teman-teman sekelas. Yang ditulis di diary itu catatan dari teman-teman aku, mulai dari nama lengkap, hobi, warna favorit, makanan favorit, sampai kata-kata mutiara.

Nah, aku mulai rajin nulis diary sejak kelas II SMP. Maklum, waktu itu lagi jamannya suka sama kakak kelas. Tiap hari aku bakalan nulis di diary. Nggak tahu juga alasannya kenapa aku bisa mulai nulis di diary itu. Pokoknya, yang ada buatku ya cuma diary itu, untuk berbagi momen-momen indah dan buruk dalam masa SMP-ku.

Akhirnya, hobi nulis diary itu berlanjut sampai aku SMA. Meski di SMA nggak ada yang bisa dikecengin (maklum, sekolah khusus cewek), tetep aja aku rajin nulis diary. Apa aja aku tulis. Sampai kadang catatan sekolah pun aku tulis di diary. Untung aja nggak ada teman yang pinjam diary aku buat nyalin catatan. Kalo nggak, bisa-bisa dia tahu rahasia hidupku.

Aku masih ingat, waktu itu aku kelas III SMA. Ada teman yang minjem buku cerpen teman di kelas lain. Si temanku itu ternyata suka banget nulis cerpen. Waktu itu aku cuma mikir, apa asyiknya sih nulis cerpen?? Tapi ternyata, nggak tahu kesambet apa, aku mulai nulis cerpen pertamaku. Aku lupa judulnya (dan nggak tahu juga sekarang di mana). Aku cuma ingat kalo temanku maksa aku untuk baca cerpen itu, dan dia suka. Dia bahkan minta aku untuk nulis cerpen-cerpen lagi.

Tapi toh, aku masih belum ngeh kalo aku memang bisa nulis. Sampai waktu aku kuliah, ketika aku sadar kalo nilai tugas-tugas Writing-ku selalu bagus, selalu dapat A, barulah aku tahu kalo bakatku adalah menulis.

Aku baru sadar kalo aku ternyata memang bisa menulis. Aku nggak pernah tahu itu karena buatku menulis sudah seperti bernafas. Aku selalu menulisi diary-ku, menceritakan kisah-kisah hidupku, atau cuma sekedar berceloteh dan menumpahkan uneg-uneg-ku. Rasanya menulis buatku terjadi dengan alami, dengan sendirinya.

Tapi meskipun aku sudah tahu kalo menulis adalah bakatku, aku belum tergerak untuk mengembangkannya. Nggak tahu juga, ya. Aku lebih suka menulis cerita fiksi, bacaan ringan yang butuh imajinasi luar biasa. Aku nggak terlalu bisa nulis yang berat-berat, semacam berita atau analisa. Aku menulis yang aku suka saja, yang memang menarik buatku.

Lama kelamaan aku kepingin juga mengembangkan kemampuanku. Jadi, aku mulai rajin menulis cerita pendek. Ada beberapa cerpen yang aku tulis, dan terlalu takut untuk aku kirim ke majalah-majalah. Aku juga menulis novel, tapi lagi-lagi terlalu takut untu mengirimnya ke penerbit. Tapi aku mulai berpikir kalo aku pasti bisa memuat karyaku di majalah. Makanya aku mulai menulis cerpen-cerpen untuk majalah, terutama majalah anak-anak. Sudah ada beberapa karyaku yang diterbitkan, dan itu berarti aku memang sungguh-sungguh bisa menulis.

Gaya tulisanku banyak dipengaruhi oleh gaya menulis Meg Cabot. Meg Cabot adalah penulis novel remaja terkenal “The Princess Diaries.” Aku suka dengan gaya penulisannya. Karena itu juga, di setiap tulisanku, aku selalu memakai sudut pandang orang pertama, yaitu ‘aku.’ Buatku, dengan memakai sudut pandang ini, aku merasa lebih dekat dengan pembaca ceritaku, karena mereka akan merasa bahwa cerita yang aku tulis seolah-olah diperankan oleh mereka sendiri.



Tapi, akhir-akhir ini aku jarang menulis diary-ku. Bukan karena malas atau apa, tapi aku menjadi lebih suka menulis cerita atau blog semacam ini daripada menulisi diary-ku. Apapun yang aku tulis, aku melakukannya karena aku mau dan karena aku suka. Seperti yang sudah aku bilang, menulis buatku sudah seperti bernafas. Aku cuma ingin menulis dan menulis, apapun yang ada di otakku ini. Mungkin juga, itu karena menulis sudah menjadi bagian dari diriku. 
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com