February 02, 2012

Aku Takut Hamil


Pernah nggak kamu merasa ketakutan setengah mati ketika dihadapkan pada sebuah kemungkinan mengerikan? Misalnya, ketika kamu harus naik roller coaster padahal kamu takut ketinggian (pengalaman pribadi, ceritanya). Kira-kira begitulah perasaanku sekarang tentang kehamilan. Mungkin kamu berpikir, “Loh, Dea kan sudah menikah. Sudah sewajarnya dia hamil dan punya anak.”

Kalau dipikir-pikir, beberapa minggu sebelum dan setelah menikah, aku masih semangat-semangatnya pengen hamil. Waktu itu aku berpikir, pasti anakku dan Antonio bakalan lucu – dan ganteng kayak bapaknya, hehe… Ketika aku telat datang bulan, aku berharap aku hamil, meskipun ternyata nggak.

Ternyata setelah beberapa bulan menikah, keinginan untuk hamil itu sirna. Banyak juga loh yang bertanya, “Sudah isi belom?” atau “Kapan hamil?” dan aku selalu menjawab, “Isi lemak sudah,” atau “Kapan-kapan,” hehe…  Awalnya aku beranggapan bahwa menunda kehamilan semata-mata karena aku masih ingin berduaan saja dengan Antonio karena, tahu sendiri lah, kami kan nggak punya banyak waktu berdua waktu masih pacaran dulu. Aku juga berpikir kalau rencana kami menunda punya anak karena kami ingin mandiri dulu; punya rumah pribadi (yang ada kolam renangnya), punya pekerjaan tetap (yang gajinya besar) dan sudah puas berkeliling dunia.

Tetapi oh tetapi, setelah dipikir-pikir, alasan sebenarnya karena aku belum memutuskan untuk hamil yaitu karena aku takut hamil. Takut hamil? Iya, serius! Waktu itu aku melihat program di TV tentang wanita-wanita yang akan melahirkan. Sekonyong-konyong aku ngeri melihatnya dan nggak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau aku melahirkan nanti. Terlebih ketika aku harus melahirkan, nggak akan ada Mama yang menemaniku dan mengajariku mengurus segala sesuatu tentang bayi. Kenyataan itu membuatku semakin paranoid untuk punya bayi.

Dan walhasil, setelah nggak datang bulan selama 3 bulan (rekor seumur hidup, loh), hari ini kami memutuskan untuk berobat ke ginekolog. Aku diperiksa dengan seksama. Pemeriksaan di Spanyol lebih detail daripada di Indonesia. Tahun lalu aku juga pernah ke ginekolog waktu nggak datang bulan selama 2 bulan. Tapi waktu itu hanya sekedar ditanyai dan dikasih obat (bahkan nggak di USG!). Tapi yang di Spanyol, ada alat seperti kamera yang dimasukkan ke “ituku” dan si dokter melihat isi dalam perutku (berharap waktu itu si dokter nggak akan menemukan roti sisa sarapan).

Si dokter bilang semua normal dan hanya sekedar gangguan hormon (untung bukan gangguan mental). Setelah itu, aku diberi resep berupa pil KB yang harus kuminum selama 6 bulan ke depan. YES, batinku. Seenggaknya selama 6 bulan ke depan bisa dipastikan aku nggak akan hamil (kecuali kalau aku lupa minum obatnya, hehe…). Waktu aku bilang itu ke ibu mertuaku, beliau sedih soalnya beliau sudah kepingin punya cucu. Hehe… Seperti biasa, aku melemparkan kesalahan pada Antonio karena waktu si dokter bertanya, “Apakah ada rencana hamil?” dia menjawab, “Saat ini belum.”

Jadi yah, begitulah akhirnya. Kehamilanku tergantung pada pil KB yang kuminum, hehe… Yang masih iseng-iseng tanya, “Sudah hamil?” semoga membaca blog ini sehingga nggak tanya-tanya lagi. Tapi jangan salah sangka; aku mau punya anak, cuma nggak sekarang. Nanti saja kalau sudah agak hilang takutnya. Sementara itu, aku mau menikmati hidup sebagai istri dan sebagai perempuan yang belum beranak, kerja (yang gajinya banyak), nabung, sehingga ketika sudah waktunya punya anak, anakku bisa hidup layak dan bahagia. 

Leelou Blogs  
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com