February 09, 2012

Hadiah Terakhir dari Mama


Hari ini aku beli HP baru. Nggak beli juga sih, tapi “renuevo” istilahnya kalau di Spanyol. Kalau di Indonesia, mungkin namanya tukar-tambah. Nggak bermaksud pamer, loh. Hanya saja, aku merasa bangga bisa beli HP baru, apalagi belinya pakai duit sendiri dari upah menulis dan menerjemahkan bulan lalu. Wuuiii… Senang deh nggak perlu ngerecokin Antonio buat beli barang-barang kebutuhanku sendiri.

Anyway, namanya juga tukar-tambah, jadi HP lamaku harus dikasihkan ke toko sebagai ganti HP barunya. Nah, sebenarnya kemarin HP baruku bisa saja kuambil, tapi aku bohong sama mbaknya. Aku bilang sama mbak yang jaga toko kalau aku nggak bawa HP sore itu. Jadi, aku balik lagi ke toko itu hari ini dan bawa HP lamaku. Namun, bukan HP lamaku yang aku kasih, tapi HP cadangan yang dulu aku beli di Indonesia waktu speaker HP-ku jebol karena terbanting (bukan sengaja dibanting, meskipun ada kecenderungan ke arah situ, hehehe).

HP lamaku (yang biasa aku pakai) bukan HP bagus yang touchscreen, Android atau yang ada WiFi-nya. Kameranya bahkan cuma VGA, belum yang pakai megapixel. Tapi aku sayang sama HP-ku itu karena itu hadiah terakhir dari Mama sebelum beliau meninggal.

Aku beli HP itu tahun 2008. Waktu itu – kalau nggak salah – bulan Maret (atau April). Aku demam, dan saking panasnya dari tubuhku keluar bintik-bintik merah. Mama sudah sakit waktu itu dan barusan keluar dari kemoterapi bulanan di rumah sakit. Tahu aku sakit, Mama nemanin aku di kamar sambil ngompres dahiku. Beliau juga nangis dan bilang kalau sakitnya buat beliau saja. Sedih deh waktu itu.

Karena panasku nggak turun-turun dan bintik-bintik merahnya makin banyak, aku disuruh ke rumah sakit buat berobat (sudah malam waktu itu, jadi praktek dokter nggak ada yang buka). Sebelum berangkat ke rumah sakit, aku pipis dulu. Naasnya, setelah pipis, HP yang aku masukkan di saku celana jeans jatuh dan nyemplung ke toilet (tapi pipisnya sudah aku guyur, kok, haha). HP-ku itu sempat bertahan hidup selama sehari sebelum akhirnya tewas secara mengenaskan, padahal itu HP yang barusan aku pakai selama 3 atau 4 bulan. Hiks.

Aku kan butuh HP, terutama buat terima SMS dari Antonio tiap pagi (karena dia selalu kirim SMS tiap pagi, co cweet…). Tahu begitu, Mama bilang ke aku, “Sana ambil duit di ATM terus beli HP baru.”

Aku jawab, “Nggak apa-apa, Mi?”

“Nggak papa. Ambil seperlunya, terus beli HP yang kamu mau,” begitu beliau bilang.

Dengan semangat aku langsung ke ATM, ambil duit dan beli HP. HP yang seperti HP-ku yang kecemplung di toilet sudah nggak keluar lagi, jadi aku pilih HP yang sejenis tapi dengan bentuk yang berbeda. Sejak hari itu, aku selalu pakai HP-ku itu, yang nggak canggih, yang nggak ada radionya, dan yang memorinya nggak kuat untuk nyimpan lebih dari 2 lagu.

Meski HP-ku kampungan, aku bangga sama HP-ku. Aku selalu berprinsip, HP nggak perlu bagus, yang penting pulsanya isi terus, haha. Nah, beberapa hari yang lalu, waktu aku habis gajian (ciieee, gajian, padahal cuma kerja online, haha), aku tanya sama Antonio, “Duitnya buat apa, ya? Buat beli HP boleh?”

Antonio bilang, “Kalau mau ganti HP, ganti aja. Tapi HP-mu jangan kamu kasih ke toko. Kasihin aja HP yang lain. HP yang ini kamu simpan. Itu kan hadiah terakhir dari Mama kamu.”

Jadi, begitulah kisahnya. Mungkin HP itu nggak akan aku pakai lagi, tapi HP itu akan tetap aku simpan dengan baik karena merupakan hadiah terakhir dari Mama. Mama, yang bahkan nggak pernah punya HP selama hidupnya. Mama, yang hanya jadi ibu rumah tangga. Mama, yang menyisakan uang tiap bulan untuk beliau tabung sendiri dan rela tabungannya dirogoh buat beli HP untukku.

Makasih, Mi.

Leelou Blogs  
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com