February 07, 2012

Kangen Sahabat


Nggak terasa sudah hampir setahun aku menetap di Spanyol. Selama itu pula aku belum berhasil berteman dengan orang-orang sekitar. Tragis, hahaha. Kata ibu mertuaku, “Gimana mau punya teman kalau kerjaannya di rumah melulu?” Seandainya berteman semudah makan ayam goreng, tentu sekarang aku sudah punya segudang teman. Tapi tetap saja, nggak ada yang bisa menggantikan sahabat-sahabatku di Jogja yang gila dan noraknya minta ampun, hehe.

Setahun di Spanyol tanpa sahabat. Rasanya? Sepi dan terkadang mengenaskan. Satu-satunya sahabat yang aku punya di sini cuma Antonio, yang juga merangkap sebagai suami, kakak, bahkan kadang kala dia juga bisa menjelma menjadi figur seorang bapak. Aku kangen sahabat-sahabatku di Jogja. Kangen menggila bersama, menggosip, atau sekedar ngomongin orang (eh, itu gosip juga, ya?).

Ada Kikin, my BFF, sobatku yang juga tetangga setiaku selama lebih dari 20 tahun. Kikin yang selalu bisa menebak isi hati maupun pikiranku bahkan tanpa aku harus mengatakannya (kadang-kadang aku pikir dia cenayang). Kikin, yang selalu heboh dengan cita-citanya untuk punya bodi langsing tapi nggak mau diet, yang selalu menjadi pilihan utamaku buat kabur dari rumah ketika aku bosan. Aih, sepinya Spanyol tanpa Kikin (tapi mungkin sekarang dia lagi happy-happy-nya sama pacar barunya).

Ada Reta, temanku semasa kuliah. Reta, yang leletnya selalu bikin aku jengkel. Reta, yang biasa kupanggil dengan sebutan Mbak Ndut, Jeng Reta atau Reta Tayang. Reta, yang sekarang ini sedang menikmati pekerjaan barunya. Reta, yang selalu bisa memberiku nasihat-nasihat yang lumayan bisa dipikirkan untuk dilaksanakan.

Ada Hana, yang pipinya segedhe bakpao. Hana, yang selalu kubujuk untuk menginap di rumah ketika aku kesepian. Hana, yang kalau tidur matanya melek separuh (pernah kufoto dan kupertontonkan di muka umum). Hana, yang kalau bahagia selalu tambah gendut, tapi kalau lagi stress bisa makan orang atau banting koran. Hana, yang katanya barusan beli komputer baru setelah akhirnya berhasil membujuk si Babe.

Ada Swesty, yang biasanya kupanggil Mbak Swe. Yang badannya langsing tapi pantatnya gedhe, hehe. Swesty, yang terkadang kekanak-kanakan dan baru sukses belajar menggoreng telur ceplok. Swesty, yang selalu bisa memberi saran-saran yang masuk akal dan menjadi pendengar yang baik. Swesty, yang jadi idola murid-murid di ELTI tapi nggak mengidolakan satu pun murid cowok karena terlanjur kepincut dengan teman semasa SMA-nya.

Ada Widhy, yang tampangnya sangar dan kelihatan jutek, tapi hatinya “lumayan” baik. Widhy, yang selalu kupinjam sepatunya karena dia punya stok banyak sepatu. Widhy, yang hobinya beli HP baru. Widhy, yang tulisan tanggannya rapi (seperti punyaku). Widhy, yang kalau marah bisa mengeluarkan kata-kata maut yang tak patut didengar, haha. Widhy, yang tergila-gila pada Vanilalatte (yang bikin aku ikut ketagihan juga).

Ada Tami, yang dipanggil Mak Cik. Tami, yang menurutku cacingan karena badannya nggak gemuk-gemuk meski makan porsi kuli. Tami, yang selalu kuajak untuk makan lontong opor di alun-alun tiap Minggu pagi sama Hana. Tami, yang menggilai drama-drama Korea dan terpaksa nonton sinetron karena ibunya memegang kendali TV. Tami, yang kadang kala tampangnya bisa lebih jutek dari Widhy.

Ada Susi, yang gilanya setengah mati. Susi, yang hormonnya terlalu banyak testosteron ketimbang estrogen, bikin dia bersikap seperti cowok. Susi, yang nggak punya malu. Susi, yang kalau naik motor bisa ngalahin pembalap nasional tapi ogah jadi pembalap. Susi, yang mengenalkanku pada salad buah. Susi, yang wajahnya mirip Welas atau Dewi Persik kalau tanpa kacamata, tapi nggak berhasil menjadi setenar mereka.

Ada Koko, yang selalu jadi tujuan utama kalau ide ngajar mampet. Koko, yang roti es krimnya selalu kutunggu tiap Imlek tiba (tahun ini nggak dapat jatah roti es krim). Koko, yang selalu main Power Rangers bersamaku kalau kita bosan. Koko, yang kalau ngajar bisa membuat kelas riuh ramai bersorak. Koko, yang hobinya makan nasi Bu Ester.

Ada Felix, yang dari kapan tahun bilang kepingin kawin tapi sampai sekarang belum kawin-kawin. Felix, yang selalu meminjam buku catatanku tiap kali mau ngajar. Felix, yang selalu ‘kusodorkan’ ke murid-murid rewel tiap kali kami ngajar kelas Kindergarten.

Ada Danang, yang kalau pinjam buku catatanku selalu rusak atau nggak dikembalikan. Danang, yang suka membawa gitar ke kelas. Danang, yang sering malas mengajar. Danang, yang mengambil alih barbel 5 kiloku. Danang, yang hobinya makan mie goreng (yang sedihnya selalu jadi rebutan Hana dan aku).

Miss you, Guys!
Reta - Aku - Kikin

Tami - Aku - Swesty

Aku - Danang

Susi - Tami - Hana - Aku - Widhy

Susi - Aku - Koko

(ditulis tengah malam waktu Spanyol, ketika nggak bisa tidur. Akibat pil KB, kayaknya)

Leelou Blogs  
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

2 comments:

Women in Dress said...

huaaaaaaaaaaaaaaa miss you too mbok :(

Coc Kader said...

mbk dea apa masih di spanyol
klau masih apa saya boleh minta tolong

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com