July 20, 2012

Ketika Dia Marah

Hehehe, kali ini aku ingin banget membahas tentang pertengkaran di antara pasangan, baik itu pasangan suami-istri atau yang masih pacaran sekali pun.

Gimana sih pasanganmu kalau dia sedang marah? Apakah dia meledak-ledak, sambil teriak-teriak dan ngelempar piring atau gelas a la sinetron begitu? Atau apakah dia malah nggak ngapa-ngapain dan cenderung nyuekin kamu?

Kalau Antonio mah cenderung ke tipe yang kedua. Kalau lagi marah atau bete sama aku atau orang lain, dia nggak akan ngapa-ngapain. Nggak negur, nggak ngajak ngomong… pokoknya dia bakalan nyuekin aku. Ini nih yang bikin gregetan! Aku lebih milih, kalau kami marahan, ya mbok bilang kenapa marah atau sebel, terus kan bisa diselesaikan bersama. Nah kalau diem-dieman, kapan selesainya? Betul, nggak?

Dulu waktu kami masih awal-awalnya pacaran, aku kaget tuh waktu dicuekin setengah mati. Keki banget rasanya, kayak kehilangan komunikasi. Kalau udah gitu, pasti aku langsung ngirimin jutaan email dan gambar-gambar lucu supaya dia nggak marah lagi. Biasanya nih, kalau udah dikirimin email, dia baru akan jelasin kenapa dia marah dan – seringnya – aku yang harus minta maaf. Nggak harus aku yang salah untuk harus minta maaf, yang penting niat aja untuk menyelesaikan masalah.

Tapi sekarang, boro-boro ngirimin email atau gambar lucu kalau dia marah. Cuekin balik aja! Hahaha. Saking udah kenalnya aku dengan kebiasaannya, kalau dia ngambek aku lebih milih menyingkir aja. Kalau dia nggak ngajak ngomong, ya aku diemin juga kalau memang nggak ada yang penting buat diomongin. Kok gitu? Iya, lah, soalnya kalau aku ngajak ngomong tapi dicuekin, kan sakit hati tuh. Merana (jiaaaah, bahasanya)! Tapi sekarang aku nggak mau ambil pusing kalau dia cuekin aku. Aku harus menjaga perasaanku sendiri, supaya tetap happy. Kan lebih enak kalau kita happy daripada sedih? Toh, menurutku masing-masing orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri. Jadi, kalau ada suatu hal yang bikin aku sedih, mendingan lupain aja. Anggap aja angin lalu. Mau nggak mau dia bakalan harus ngajak aku ngomong, kan? Hehehe.

Lagi pula, aku bukan tipe orang yang meledak-ledak kalau marah. Justru sebaliknya; aku sering nggak bisa meluapkan kemarahanku. Bisanya aku tahan sendiri sampai dada perih rasanya. Sumpah, beneran perih, lho! Kalau udah nggak terbendung lagi, baru deh mewek, hehehe. Biasanya sih, kalau dia udah lihat aku mewek, marahnya udah mulai hilang. Bener kali ya apa kata orang, air mata perempuan bisa menaklukan pria, hahaha.

Meskipun begitu, kalau kami sedang marahan, biasanya sih nggak bertahan lama. Paling-paling sehari atau dua hari juga udah baikan lagi, udah sayang-sayangan lagi dan ejek-ejekan lagi, hehe. Kalau salah satu sudah lebih reda amarahnya, baru deh kami mulai membicarakan masalahnya, kenapa bisa begitu begitu dan bagaimana menyelesaikannya.

Gimana pun juga, kalau kita sedang ada masalah dengan pasangan, baiknya diselesaikan secepatnya. Menurutku, untuk menyelesaikan masalah nggak harus dengan adu otot atau adu mulut. Kalau dua-duanya dalam keadaan ‘tegangan tinggi,’ mana mungkin bisa saling berkomunikasi? Karena itu, baiknya keduanya sama-sama tenang dan berpikiran jernih supaya masing-masing bisa mendengarkan omongan yang lain dan memahami alasan kenapa yang lain marah atau sebel. Kalau yang satu sedang marah, yang lain harus mengalah. Nggak perlu harus merasa benar. Meskipun bukan kita yang salah, nggak ada salahnya mengalah dan minta maaf duluan. Toh mengalah bukan berarti kalah, kan?

Seperti apa pasanganmu kalau dia sedang marah dan bagaimana kamu menyelesaikan masalah dengan pasanganmu?


Leelou Blogs
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com