July 17, 2012

Masih Kangen


Summer camp kemarin merupakan 2 minggu pertamaku jauh dari Antonio di Spanyol. Dulu kami memang menjalani hubungan jarak jauh selama kurang lebih 2,5 tahun sebelum kami akhirnya menikah dan aku pindah ke Spanyol. Sejak aku di Spanyol, aku nggak pernah melewatkan sehari pun tanpa Antonio. Bisa dibilang kami seperti prangko yang selalu nempel ke mana pun kami pergi – kecuali kalau Antonio kerja, tentunya.

Maka dari itu, waktu aku tahu kalau aku harus melewatkan 2 minggu tanpa Antonio, rasanya gimanaaa gitu. Cuma 2 minggu lho padahal, tapi kok rasanya berat banget. Malahan, bahkan sampai ketika aku sudah di camp, aku sempat nangis mewek kayak anak kecil yang nggak dibolehin beli mainan sama orangtuanya. Kekanak-kanakan banget, ya?

Nggak tahu juga nih kenapa bisa begitu, padahal dulu waktu pacaran jarak jauh juga biasa saja. Memang sih ada rasa kangen juga, tapi nggak heboh sampai nangis-nangis bombay meski jauhan. Palingan aku nangis kalau pas benar-benar amat sangat kangen sekali – jiiaaah, bahasanya!

Pas akhirnya 2 minggu di camp selesai, lega banget rasanya. Apalagi pas ketemu Antonio setelah 2 minggu nggak ketemu. Wuuuiiii, beneran happy banget deh! Meski begitu, sampai sekarang pun aku masih kangen sama dia, padahal kami sudah serumah lagi, lho. Dan kalau aku mikir harus jauhan lagi sama dia, sedih rasanya. Padahal bulan depan aku bakalan pulang kampung ke Jogja dan bakalan nggak ketemu Antonio selama hampir sebulan. Duh, kalau bayangin itu sedihnya kambuh lagi. Sayang Antonio nggak bisa ikutan aku pulang tahun ini karena harus kerja. Coba dia bisa ikutan pulang, pasti nggak akan terlalu sedih jadinya.

Tapi ya, gimana pun juga aku kan bakalan pulang kampung. Antonio bilang sih aku nggak akan terlalu sedih nantinya karena aku bakalan dikelilingi keluarga dan teman-temanku, bisa makan makanan Indonesia favoritku, bisa belanja sesuka hati – murah meriah, euy! – dan tentunya kami pun masih bisa chatting dan webcam-an lagi seperti dulu. Moga-moga Internet di Indonesia nggak lemot, hehehe.

Aku ngerti banget betapa beratnya tinggal jauh dari orang yang kita sayangi, apalagi kalau kita sudah terbiasa hidup bersamanya. Aku sudah terbiasa melihatnya ketika aku bangun ataupun tidur, sudah terbiasa mengobrol dengannya sepulang dia kerja, dan juga sudah terbiasa melakukan hal-hal aneh bersamanya, semacam mengejar-ngejar kelinciku atau sekedar main Poker.

Pokoknya, kalau harus membayangkan tinggal jauh dari Antonio, pasti moodku langsung berubah drastis, dari yang tadinya happy ke ngelangut, hehehe. Sementara bulan September nanti aku akan mulai kerja di kota lain dan Antonio belum bisa ikutan pindah ke kota yang sama sampai dia dapat kerjaan baru di kota itu. Bisa dibilang aku harus tinggal sendiri selama beberapa bulan. Nggak jauh sih sebenarnya, hanya 3 jam perjalanan naik mobil. Dan aku pun hanya kerja dari hari Senin sampai Kamis. Jadi, aku punya 3 hari untuk sama-sama Antonio.

Berat memang kalau harus memilih antara karir atau keluarga. Di satu sisi aku nggak ingin tinggal jauh dari Antonio. Tapi di sisi lainnya, aku pun ingin kerja dan punya penghasilan sendiri. Aku nggak mau terus-terusan mengandalkan Antonio. Aku juga ingin mandiri dan ingin menunjukkan kalau aku bisa sukses di negeri orang dan orangtuaku pun nggak sia-sia sudah menyekolahkan aku tinggi-tinggi. Itu saja, sebenarnya.

Yah, everything happens for a reason, menurutku. Meski awalnya aku harus tinggal jauh dari Antonio, aku yakin kalau itu cuma sementara saja. Nantinya Antonio pun akan pindah ke kota yang sama denganku, dan kami pun bisa tinggal sama-sama lagi.

Yang penting, tetap semangat! I always believe that we are meant to be together, entah itu physically maupun spiritually. God knows what’s best for us, anyway.

N.B.:
Isi blognya lama-lama nggak nyambung sama judulnya, ya?? So bodo, deh. Hehehe…

Leelou Blogs  
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com