July 25, 2012

What The Hell


Malam ini sedang bete – dan mungkin sedikit jengkel. Dan seperti biasa, kalau lagi sebel atau senep – bahasa Jawanya – aku melampiaskan apa yang aku rasakan pada tulisan, seperti yang sedang aku lakukan sekarang ini.

Aku nggak ngerti kenapa orang-orang selalu ingin tahu urusan orang lain. Kenapa mereka selalu melihat sisi buruk orang lain? Kenapa mereka selalu mencari-cari kesalahan orang lain dan lalu menggosipkan masalah tersebut? Kenapa mereka nggak ngaca diri mereka sendiri dulu sebelum mereka mencela orang lain, seolah-olah mereka tuh nggak punya cela sedikit pun? Aku paling nggak suka dengan tipe orang semacam ini, yang bisanya hanya melihat sisi negatif orang lain.

Kalau mengingat ada tipe orang seperti ini, ingin sekali aku berteriak di depan mereka sambil berkata, “Mind your own business!” Coba bayangin, sebel nggak sih kalau setiap hal yang kamu lakukan seolah-olah dimata-matai dan mereka menunggu saat yang tepat sampai kamu melakukan suatu kesalahan – yang mungkin nggak seberapa – supaya bisa dengan semangatnya membicarakan kesalahanmu itu ke orang lain?

Aiissshhh! Pengen kujitak rasanya!

Aku nggak akan munafik kalau aku nggak membicarakan orang lain. Ada kalanya aku juga membicarakan orang lain. TAPI, aku nggak suka membicarakan keburukan mereka karena itu hanya akan membawa energi negatif ke aku. Ingat, apa yang kita tuduh ke orang lain biasanya akan kembali ke diri kita masing-masing. Jadi, sebelum aku membicarakan keburukan orang lain, aku harus memastikan bahwa aku nggak melalukan dan nggak akan melakukan hal yang sama. Itu sama saja dengan menelan ludah sendiri. Betul, nggak??

Kayaknya aku udah beneran muak dengan tipe-tipe orang seperti itu sampai aku nggak begitu peduli dan nggak ambil pusing lagi kalau mereka mulai bicara buruk tentang aku, kenapa aku begini atau kenapa aku begitu. Aku masih ingat betul “jawaban” Tuhan atas pertanyaanku, “What’s wrong with me?” yang dijawab-Nya, “There’s nothing wrong with you; there’s a lot wrong with people who judge you.”

Bisa dibilang aku cuek. Bisa dibilang aku masa bodoh dengan omongan orang. Toh, mereka nggak benar-benar mengenal aku. Jadi, kenapa mereka tiba-tiba ‘berhak’ menilai siapa aku? Siapa mereka, gitu loh???

Ah, nulis sambil marah begini ternyata menguras energi juga. Tapi kalau nggak ditulis, enggak lega juga. Aku nggak biasa menceritakan uneg-unegku ke orang lain, nggak bahkan ke suamiku kalau memang nggak kepepet.

Apa aku merasa baikan setelah menuliskan apa yang aku rasa dan pikirkan saat ini? Nggak juga, tuh. Yang membuatku lebih baik hanya satu; bersyukur. Entah kenapa bersyukur selalu membuatku merasa baikan dan melupakan uneg-unegku. Jadi, mari kita bersyukur. 

Leelou Blogs  
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com