November 22, 2012

Dilema Jadi Guru (di Spanyol)


Hari ini rasanya sebal minta ampun. Kelas-kelas yang aku ajar nggak berjalan menyenangkan sesuai yang aku inginkan-dan mungkin ada penyebab lainnya. Dua kelas pertama yang aku ajar hari ini adalah kelas untuk murid usia 9-10 tahun. Waktu di Indonesia, murid-murid yang berusia segitu lumrahnya sudah tahu banyak kosa kata dalam bahasa Inggris dan tahu bagaimana mengeja kata dalam bahasa Inggris.

Tapi hal itu nggak bisa diharapkan dari murid-muridku di sini. Banyak dari mereka yang nggak bisa mengeja kata dalam bahasa Inggris dan sebagian besar dari mereka nggak terlalu punya banyak kosa kata bahasa Inggris. Contohnya sederhana. Salah satu muridku bertanya, “Apa esta comiendo (sedang makan) dalam bahasa Inggris?” Aku bilang, “Is eating.” Tapi dia bahkan nggak tahu bagaimana mengeja EAT. Nggak juga tahu apa itu “makan” dalam bahasa Inggris. Please deh, EAT kan kata yang basic banget.

Dan lagi, waktu aku membaca karangan mereka, banyak dari mereka yang nggak bisa menuliskan kata-kata dengan benar. Masa ada yang menulis MONKEY “monkei”? Duh! Tepok jidat, deh. Maksudku, “monkey” kan hewan sederhana yang biasa dipakai di kelas (selain “dog” dan “cat” tentunya).

Selain itu, kelas-kelas remaja terkadang seperti mimpi buruk. Kenapa? Karena mereka nggak berhenti mengoceh dengan teman mereka dan nggak mau mendengarkan. Kalau mereka tahu dan paham dengan penjelasanku sih nggak masalah mau mengobrol. Tapi kalau bahkan nggak mudheng apa-apa, percuma mengobrol.

Namun, yang paling menyebalkan adalah menghadapi kelas untuk murid dewasa, terlebih bagi yang levelnya sudah tinggi. Sering aku merasa beberapa dari mereka merendahkan pengetahuan bahasa Inggrisku. Misalnya saja, ketika mereka bertanya apa arti dari sebuah kata (dalam bahasa Spanyol) ke bahasa Inggris, terkadang aku nggak tahu apa arti kata itu. Lha, bagaimana aku bisa tahu kalau aku bahkan nggak pernah mendengar kata itu di bahasa Spanyol? Aku kan nggak terlalu bisa bahasa Spanyol!

Memang aku bukan penutur asli bahasa Inggris, tapi hey, aku punya pengetahuan bahasa Inggris yang lebih dari cukup. Aku bisa menjelaskan kenapa begini dan kenapa begitu. Kalau nggak, mana mungkin kemarin aku bisa menjelaskan bagaimana penggunaan “does” dalam kalimat. Dan yah, yang bertanya itu native English speaker, lho. Dia bahkan nggak tahu apa fungsi “does”. Itulah, native speakers belum tentu bisa menjelaskan. Justru yang seperti aku, yang benar-benar belajar bahasa Inggris, tahu kenapa “does” dipakai dalam kalimat.

Uff… *tarik napas*

Sebal rasanya kalau kita direndahkan hanya karena kita dianggap nggak lebih tahu dari orang lain. Maksudku, kalau mereka yang merendahkan aku itu merasa lebih tahu dari aku, kenapa bukan mereka yang berdiri di depan kelas dan jadi guru? Benar, nggak? Dan yang lebih menyebalkan lagi, yang merendahkan aku itu bukanlah murid yang “menonjol” di kelas, yang karangannya masih acak adul, yang pengucapan katanya masih amit-amit. Yang pandai di kelas justru sebaliknya. Mereka nggak merendahkan guru mereka. Yah, seperti kata pepatah, “Seperti padi; semakin berisi semakin menunduk.” Semakin tahu justru semakin rendah hati.

Itulah kenapa terkadang aku nggak betah mengajar di situ. Pertama karena metode yang dipakai di sana nggak sesuai dengan apa yang aku yakini, karena kupikir metode yang dipakai di tempat aku mengajar di Indonesia dulu jauh lebih baik dan mengena daripada di tempatku mengajar sekarang. Kedua karena murid-muridnya kurang menghargai guru-guru. Kata Antonio itu lumrah di sini. Murid-murid di Spanyol memang kurang menghargai guru mereka.

Aku cuma berharap bisa mendapatkan pekerjaan lain yang nggak mengharuskanku untuk berurusan dengan orang-orang. Aku lebih suka kerja di balik meja, di depan komputer. Jadi penerjemah atau penulis, misalnya. Semoga segera dapat penggantinya.


  
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com