May 21, 2013

CERPEN: Nuno Mau Ikan


“Iiihhh, makanan apa itu??” teriak Nuno ketika Janu menyodorkan sepiring nasi yang dicampur potongan tempe goreng sisa lauk semalam. Jangankan ia memakan makanan itu, diendusnya pun tidak.
“Ayolah, Nuno,” kata Janu bingung. “Makan ini. Kamu harus makan.” Tampak sedih di wajahnya. Betapa tidak? Sejak kemarin sore Nuno belum mau makan apapun. Ia hanya mau meminum susu yang dibuatkan Janu untuknya. Tapi tetap saja Nuno harus makan. Perutnya bisa kosong kalau tak ada makanan apapun yang masuk ke perutnya. Ia bisa sakit nantinya.
Tapi Nuno tetap bergeming. Ia memalingkan wajahnya dan pergi menjauh. “Aku ogah makan makanan seperti itu. Aku ini kan kucing. Aku mau ikan!” katanya sebal.
Ya, Nuno adalah seekor kucing yang baru ditemukan Janu dua hari yang lalu. Hujan lebat ketika itu, dan Nuno meringkuk kedinginan di bawah pohon sendirian. Tubuhnya basah kuyup dan ia lapar. Pada saat itu juga, Janu sedang dalam perjalanan ke rumah sepulang sekolah. Ketika melihat seekor kucing yang menggigil kedinginan, ia merasa iba. Dibawanya kucing itu pulang dan dikeringkannya bulu-bulunya. Ia juga membuatkan sepiring susu hangat yang diminum kucing itu dengan lahap.
Kucing itu masih sangat kecil. Bulunya coklat keemasan dan ada semacam tanda berbentuk lingkaran di kepalanya. Janu sangat menyukai kucing ini. Ia pun memohon pada ibunya agar ia diperbolehkan memelihara kucing itu. Ibunya mengijinkan asalkan ia berjanji akan merawat kucing itu dengan baik. Janu pun menamai kucing itu “Nuno.”
Namun sepertinya Nuno tak menghargai apa yang telah dilakukan Janu terhadapnya. Ia sama sekali tak menyentuh makanan yang disodorkan Janu padanya, hanya karena Janu tidak memberinya ikan.
Nuno masih bermalas-malasan siang itu. Perutnya lapar, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan Janu sebelum ia berangkat ke sekolah pagi ini. Ia menggeliat merenggangkan kaki dan tanganya. “Aku bosan,” katanya.
Nuno pun bangkit dari tidurnya dan mulai berjalan mengitari ruangan. Namun, apa itu? Sesuatu bergerak cepat di balik jendela? Ia pun mendekati benda itu. Dan betapa senangnya ia ketika ia menemukan mainan baru. Ya, Nuno menemukan seekor kupu-kupu.
Dikejarnya kupu-kupu itu hingga ke ruang depan. Ia menjulurkan kepalanya, mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi, sambil berusaha menggapai kupu-kupu itu. Ia melompat dan berlari mengikuti ke mana kupu-kupu itu terbang. Sampai akhirnya…
“Kena, kau!” kata Nuno senang. Ia berhasil menangkap kupu-kupu itu. Diperhatikannya kupu-kupu itu dengan seksama. Belum pernah ia melihat makhluk seperti ini, pikirnya. Kira-kira makhluk ini enak tidak, ya?
Tak lama kemudian, nyaaaaaammm…
Nuno menelan kupu-kupu itu. Rasanya aneh, pikirnya. Tapi tunggu dulu. Tiba-tiba Nuno merasa tak enak badan. Perutnya terasa sangat sakit. Ia mengerang sambil berguling dilantai. Meeooonggg… Meoooonnggg… Tapi tak seorang pun mendengarnya.
Untunglah tak lama kemudian Janu kembali dari sekolah. Melihat Nuno yang mengeong kesakitan, ia pun panik.
“Nuno!” teriaknya cemas. “Apa yang terjadi? Kamu kenapa, Nuno?”
Namun, meski Nuno berusaha menjelaskan padanya bahwa perutnya sakit, tetap saja Janu tidak mengerti ucapannya. Ia hanya bisa mengerang kesakitan. Janu pun berlari mencari ibunya. Begitu didapati ibunya berada di kebun belakang rumah, dijelaskannya kondisi Nuno.
“Ibu!! Nuno, Bu!!” katanya tergesa-gesa sambil menarik tangan ibunya ke ruang depan. “Nuno sakit!!”
Melihat kondisi Nuno, ibunya memutuskan membawa Nuno ke klinik hewan di dekat rumahnya. Setelah diperiksa dan diberi obat, Nuno merasa sedikit lebih baik.
“Dia tidak apa-apa,” kata Pak Dokter Hewan ramah. “Nuno hanya makan sesuatu yang tidak semestinya. Ini wajar. Kucing seusianya memang suka memakan benda-benda yang aneh,” begitu penjelasan Pak Dokter Hewan. Nuno pun merasa malu. Seharusnya ia makan saja makanan pemberian Janu dan bukannya memakan makhluk asing bersayap itu. Kalau saja ia memakan makanan pemberian Janu, tentu ia tidak akan merasakan sakit perut yang luar biasa seperti tadi.
Sesampainya di rumah, Janu membuatkan sepiring susu hangat untuk Nuno. “Ini, Nuno. Minum yang banyak, ya,” kata Janu penuh kasih sayang. “Dan makan ini untuk sementara. Jangan sampai perutmu kosong,” kata Janu lagi sambil menyodorkan piring lainnya ke hadapan Nuno.
Nuno memandang piring yang disodorkan Janu padanya; nasi yang dicampur oseng kacang panjang. Bukan ikan, pikirnya. Tapi tetap saja Nuno makan nasi oseng kacang panjang itu dengan lahap. “Rasanya lumayan,” ucapnya.
Sembari makan, Nuno menyesali perbuatannya. Selama ini ia sudah melupakan kebaikan Janu. Kalau bukan karena Janu, pasti ia sudah mati kedinginan dan kelaparan di bawah pohon waktu itu. Dalam hati ia berjanji, akan memakan apapun yang diberikan Janu padanya, meski itu bukan ikan kesukaannya.
“Maafkan aku, Janu,” kata Nuno sambil merapatkan dirinya ke kaki Janu. Digosok-gosokkan tubuhnya ke kaki Janu sebagai tanda sayang. Janu pun membelai Nuno dengan lembut. “Besok aku akan membelikan ikan untukmu, ya.”

Dimuat di Majalah Bobo Edisi 31, 10 November 2011

------------------------------------------------------------------------------

Spesial ditulis kembali untuk temanku Ika Riyasari a.k.a "Bumil" hehehe. Semoga kehamilan dan proses persalinan berjalan lancar :)


 
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

2 comments:

Anonymous said...

Interesting blog! Is your theme custom made or did you download it from somewhere?
A design like yours with a few simple tweeks would really make my blog shine.
Please let me know where you got your theme.
Thank you

my blog post; mira hair oil

ika riyasari said...

Makasih ya de ud dimuat di blog, sering2 bikin cerita anak de :)

Xoxoxo

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com