June 13, 2014

Piala Dunia 2002 dan Mimpi yang Terwujud

Today I feel like writing in Indonesian. So if you'd like to read this post (yes Nicole, that's you!), please refer to the translation buttons on the top of this page. If they don't work, you can always go to Google Translate. Google knows almost everything :)


Kalau ada yang benar-benar ingin tahu dan sungguh-sungguh penasaran bagaimana aku bisa terdampar di negeri Matador ini, jawabannya hanya satu: Piala Dunia 2002.

Kenapa Piala Dunia 12 tahun silam itu begitu mengena buatku? Karena di situlah impianku bermula. Impian untuk bisa mengunjungi Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya. Impian untuk bisa bertemu pemain-pemain bola Spanyol yang ganteng-ganteng (haha!). Impian untuk menjadi seorang wartawan olah raga, yang sayangnya kandas di tengah jalan (tapi toh aku punya segudang impian lainnya).

12 tahun lalu, ketika Piala Dunia diputar di televisi, aku hanya melongo. Pikirku, "Apa sih yang menarik dari bola?" Aku menemukan jawabannya ketika menonton pertandingan Spanyol. Yah, Iker Casillas-lah yang membuat bola menarik. 

Darah remajaku saat itu bergejolak melihat tampang aduhai sang penjaga gawang, yang saat itu baru berusia 21 tahun. Saat itu juga aku mulai ngefans dengan Casillas dan mulai tertarik dengan negara Spanyol. Aku pun mulai berpikir, bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu Casillas secara langsung? Aku kan enggak punya uang untuk terbang ke Spanyol. 

Saat itulah ide impianku muncul: kalau aku jadi wartawan olah raga, aku bisa ditugaskan untuk meliput pertandingan-pertandingan besar di Eropa, dan aku pun bisa bertemu dan berfoto ria dengan para pemain bola yang ganteng-ganteng itu. Dan tentunya, perjalanan liputanku pastinya GRATIS, jadi aku tak perlu pusing mencari uang untuk terbang ke Eropa. WOW! Ide genius, pikirku waktu itu.

Karena Casillas-lah, aku, yang waktu itu berumur 15 tahun, menetapkan pilihan menjadi wartawan olah raga (tepatnya di Tabloid BOLA). Setiap aku ditanya, "Setelah lulus kuliah kamu mau kerja di mana?" aku selalu bilang, "Aku mau jadi wartawan BOLA."

Tidak mudah lho meyakinkan orang lain bahwa aku bisa jadi wartawan BOLA. Setiap kali aku mengutarakan impianku itu, mereka bilang, "Jadi wartawan itu gajinya kecil," atau "Ngimpi kali mau ke Eropa gratisan." Tapi yah, biarkan anjing menggonggong, impian tetap berlanjut.

Singkat cerita, aku tidak berakhir menjadi wartawan BOLA, meskipun aku sempat masuk tahap akhir wawancara di antara 11 calon wartawan lainnya. Kecewa sih iya, tapi impianku ini tetap menyala. Pasti ada jalan lain buatku untuk ke Spanyol.

Sudah 3,5 tahun aku tinggal di Spanyol. Aku tidak sekedar mengunjungi Spanyol a la turis, tapi aku sungguh-sungguh tinggal, hidup dan bekerja di sini. Terbukti bahwa impian gilaku itu bisa terwujud, bahkan sejuta kali lebih baik! Aku tidak menyesal tidak bisa menjadi wartawan. Dan meskipun aku belum sempat bertemu Casillas secara langsung, aku tidak keberatan. Siapa tahu, suatu saat nanti di saat yang tidak terduga, dia akan berjarak hanya beberapa meter di depanku. Semoga saja.

Sebesar dan segila apapun impian kita tidak akan membuat kita aneh atau berbeda. Justru aneh kalau kita tidak punya impian. Mau dibawa ke mana hidupmu kalau kamu tidak punya mimpi? Buatku impian membuat hidup seperti peta. Kita sudah tahu ke mana kita harus pergi dengan berpatokan pada impian kita tadi. 

Aku pun masih punya banyak impian yang ingin aku capai. Apapun kata orang tentang impian-impianku ini aku tidak peduli. Ini hidupku. Ini pilihanku. Kalaupun impianku itu gagal kuraih, aku yakin pasti akan datang impian yang jauh lebih baik buatku.

Tetap bermimpi!

post signature
Share Share to Facebook Share to Twitter Email This Pin This

0 comments:

Post a Comment

 

Blog Template by LoHiceYo.com